BAB
I APA ARTINYA SAYA MENGAKU MUSLIM ?
Berisi
tentang karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang muslim sehingga ia bisa
benar-benar menjadi muslim sejati. Bab ini juga menjelaskan syarat-syarat yang
harus dipenuhi oleh siapa saja yang menyatakan diri sebagai pemeluk agama Islam.
Adapun karakteristik yang dimaksud adalah :
Syarat pertama
pengakuan sebagai muslim adalah hendaklah akidahnya adalah akidah yang benar
dan sahih, selaras dengan apa yang terdapat dalam Al Quran dan As Sunnah.
Untuk mengislamkan
akidah, maka konsekuensinya adalah :
- Harus meyakini bahwa pencipta alam ini
adalah Allah dengan bukti adanya keindahan, kesempurnaan, keserasian, dan
ketergantungan sebagiannya kepada sebagian lain yang mustahil ia bisa bertahan
dan terus ada tanpa dikendalikan oleh Tuhan Al-‘Aliy
(Yang Maha Tinggi) dan Al-Qadir (Yang
Maha Kuasa) ini.(Q.S. Al-Anbiya’: 22)
- Harus mengimani bahwa Al-Khaliq tidak menciptakan alam semesta
ini secara sia-sia. (Q.S. Al-Mukminun:
115-116)
- Harus meyakini bahwa Allah telah
mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab untuk mengenalkan manusia kepada
pengetahuan tentang Dia, tujuan penciptaan mereka, awal kejadian mereka, dan
tempat kembali mereka. (Q.S. An-Nahl:
36)
- Harus meyakini bahwa tujuan keberadaan
manusia ini adalah mengenal Allah, menaati-Nya dan beribadah kepada-Nya. (Q.S. Adz-Dzariyat: 56-58)
- Harus meyakini bahwa balasan bagi orang
mukmin yang taat adalah surga, sedangkan balasan bagi orang kafir yang bermaksiat
adalah neraka.(Q.S. Asy-Syura: 7)
- Harus meyakini bahwa manusia melaksanakan
kebajikan dan kejahatan dengan ikhtiar dan kehendaknya. Akan tetapi, ia tidak
bisa melaksanakan kebaikan kecuali dengan taufik dan pertolongan Allah. Ia
tidak melakukan kejahatan semata-mata karena paksaan dari Allah, tetapi dalam
kerangka izin dan kehendak-Nya. (Q.S.
Asy-Syams: 7-10)
- Harus meyakini bahwa menetapkan syariat
merupakan hak Allah yang tidak boleh dilanggar. (Q.S. Asy-Syura: 10)
- Harus mengetahui nama-nama dan
sifat-sifat Allah yang selaras dengan keagungan-Nya. “Allah memiliki sembilan
puluh sembilan nama –seratus kurang satu– tidak seorangpun menghafalnya kecuali
ia masuk surga. Dia witir dan mencintai apa yang witir (ganjil).” (HR. Bukhari dan Muslim)
- Harus merenungkan mengenai ciptaan
Allah, bukan mengenai Dzat-Nya, sebagai pelaksanaan sabda Rasulullah : “Berpikirlah
tentang ciptaan Allah, tetapi jangan berpikir tentang Allah, karena kalian
tidak mungkin mengenal dengan sebenar-benar pengetahuan mengenai-Nya.” (HR. Abu Nu’aim)
- Sifat-sifat
Allah banyak diisyaratkan oleh ayat Al Quran dan merupakan sifat uluhiyah (ketuhanan).
- Harus
meyakini bahwa pendapat para salaf lebih utama untuk diikuti, khususnya dalam
persoalan takwil dan ta’thil, serta menyerahkan pengetahuan mengenai
makna-makna ini kepada Allah.
- Harus
beribadah kepada Allah tanpa mempersekutukan-Nya. (Q.S. An-Nahl: 36)
- Takut
kepada-Nya dan tidak takut kepada selain-Nya. Rasa takut itu harus mendorong
untuk menjauhi apa yang dimurkai dan diharamkan-Nya. (Q.S. An-Nur: 52; Q.S. Al-Mulk: 12)
- Harus
mengingat-Nya dan senantiasa mengingat-Nya. Diamku harus merupakan berpikir dan
bicaraku merupakan dzikir. (Q.S.
Ar-Ra’d: 28; Q.S. Az-Zukhruf: 36-37)
- Harus
mencintai Allah dengan kecintaan yang menjadikan hati senantiasa merindukan keagungan-Nya, tertambat pada-Nya,
sehingga mendorong untuk senantiasa menambah kebaikan, berkorban, dan berjihad
di jalan-Nya selama-lamanya. Cinta kepada-Nya tidak boleh dihalangi oleh
kecintaan akan kekayaan dunia maupun keluarga. (Q.S. At-Taubah: 24)
- Harus
bertawakal kepada Allah dalam segala keadaan dan menggantungkan diri kepada-Nya
dalam segala urusan. Sikap ini akan menumbuhkan kekuatan dan spirit yang bisa
memudahkan dalam menghadapi kesulitan. (Q.S.
Ath-Thalaq: 3)
- Harus
bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya yang tak terhingga serta segala
karunia dan rahmat-Nya yang tak terhitung.(Q.S.
Yasin: 33-35; Q.S. Ibrahim: 7)
- Harus
beristighfar memohon ampunan Allah dan senantiasa beristighfar. Istighfar
merupakan kafarah (hal yang
menghapuskan dosa), memperbarui tobat dan iman, dan menumbuhkan perasaan tenang
dan tenteram. (Q.S. An-Nisa’: 110; Q.S.
Ali ‘Imran: 135-136)
- Harus
menyadari muraqabah (pengawasan)
Allah baik dalam keadaan sendiri maupun berada di tengah-tengah manusia. (Q.S. Al-Mujadilah: 7)
Dalam Islam, ibadah
merupakan puncak ketundukan dan puncak kesadaran mengenai keagungan ma’bud (Tuhan yang disembah). Ia
merupakan tangga yang menghubungkan makhluk dengan Khaliq. Ia juga memiliki
pengaruh yang mendalam dalam interaksi antarsesama hamba Allah. Dalam hal ini,
seluruh rukun Islam seperti shalat, zakat, puasa dan haji memiliki kedudukan
yang sama dengan amalan lain yang seyogianya manusia melaksanakan untuk mencari
ridha Allah dan mengikuti tentunan syariat-Nya. Lihat Q.S. Adz-Dzariyat: 56-58 dan Q.S.
Al-An’am: 163.
Untuk mengislamkan ibadah, maka
konsekuensinya adalah :
- Ibadah harus “hidup” dan “tersambung”
kepada ma’bud. Inilah derajat ihsan
dalam ibadah.“Hendaklah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu
melihat-Nya, jika kamu idak bisa (seakan-akan) melihat-Nya, maka (sadarilah
bahwa) Ia melihatmu.” (Mutafaq alaih)
- Ibadah harus khusyuk. “Alangkah
banyaknya orang yang berdiri melaksanakan shalat, tetapi yang diperoleh dari
shalatnya hanyalah kelelahan dan kepayahan.” (HR. An-Nasa’i)
- Dalam beribadah hati harus sepenuh hati,
melepaskan pikiran dari sekeliling, yaitu kesibukan dan keinginan duniawi.
“Allah tidak akan melihat shalat yang dilakukan oleh seseorang yang hatinya
tidak hadir di dalamnya bersama badannya (tidak dilakukan sepenuh hati).” (Musnad Al-Firdausi). Dikatakan pula,
“Shalat adalah bagian dari akhirat. Maka jika kamu telah memasuki akhirat, kamu
harus keluar dari dunia.”
- Dalam beribadah jangan pernah puas. “Barangsiapa memerangi kekasih-Ku, maka Aku
mengizinkan untuk memeranginya. Tidaklah hamba-Ku bertaqarub kepada-Ku dengan
sesuatu yang lebih Aku cintai daripada sesuatu yang telah Aku wajibkan
atasnya. Hamba-Ku akan senantiasa
bertaqarub kepada-Ku dengan melakukan nawafil (ibadah-ibadah
sunnah), sampai Aku mencintainya. Dan apabila Aku sudah mencintainya, maka Aku
akan menjadi telinganya yang dipakainya untuk mendengar, menjadi matanya yang
dipakainya untuk melihat, menjadi tangannya yang dipakainya untuk memukul, dan
kakinya yang dipakainya untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti mengabulkannya,
jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pasti melindunginya. Aku
tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu yang Kulakukan seperti keraguan-Ku
mencabut nyawa hamba-Ku yang mukmin yang tidak suka kematian sedangkan Aku
tidak suka menyakitinya.” (HR. Bukhari)
- Harus memiliki keinginan yang besar
untuk melaksanakan qiyamulail (shalat
malam) serta melatihnya sampai terbiasa, karena qiyamulail merupakan salah satu
“mesin keimanan” yang paling besar. LihatQ.S.
Al-Muzamil: 6; Q.S. Adz-Dzariyat: 17-18; Q.S. As-Sajdah: 16). Beberapa
ibadah nafilah yang seyogianya
kontinu dilaksanakan, yaitu qiyamulail,
shalat Dhuha, shalat Tarawih, puasa Senin dan Kamis, puasa Arafah bagi yang
tidak melaksanakan haji, puasa Asyura, puasa enam hari di bulan Syawal, puasa ayamul-bidh (tanggal 13, 14, 15 bulan
Qamariah), serta i’tikaf.
- Hendaknya menyediakan waktu untuk
membaca dan merenungkan Alquranul Karim, khususnya pada waktu fajar.(Q.S. Al-Isra’: 78)
- Doa harus menjadi tangga untuk memohon
kepada Allah dalam setiap keadaan. Doa merupakan intisari ibadah. Kita harus
berusaha keras untuk menggunakan doa yang ma’tsur.
Berakhlak mulia
merupakan tujuan pokok dari risalah Islam, sebagaimana yang ditegaskan oleh
Rasulullah dalam sebuah haditsnya, “Sesungguhnya aku diutus oleh Allah untuk
menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR.
Ahmad)
Sifat-sifat yang
seyogianya terdapat pada seseorang agar ia berakhlak Islami adalah :
1)
Bersikap wara’ (hati-hati) terhadap syubhat.
Rasulullah
bersabda, “Yang halal itu jelas, yang haram itu jelas, dan di antara keduanya
terdapat hal-hal samar-samar yang tidak diketahui oleh banyak manusia.
Barangsiapa yang memelihara diri dari syubhat, berarti telah membersihkan
kehormatan dan agamanya. Dan barangsiapa yang terjatuh dalam syubhat, berarti
telah terjatuh dalam hal yang diharamkan. Seperti penggembala di sekitar tanah
larangan, hampir-hampir ia terjerumus ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja
mempunyai tanah larangan, dan ketahuilah sesungguhnya tanah larangan Allah
adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada segumpal
daging. Apabila ia baik, maka seluruh tubuh itu baik; tapi jika ia rusak, maka
seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, itu adalah hati.”(HR. Bukhori)
2)
Menahan pandangan (Ghadhul Bashar)
Hendaklah menahan pandangan dari segala
yang diharamkan oleh Allah karena pandangan itu menimbulkan keinginan dan
secara bertahap akan membawa pelakunya untuk melakukan dosa dan kemaksiatan.
Lihat Q.S An-Nur: 30-31. Rasulullah
bersabda, “Pandangan adalah salah satu panah iblis.” (HR. Thabrani)
Hendaklah menjaga lidah dari berbicara
yang berlebihan, kata-kata kotor, kalimat-kalimat kasar, pembicaraan yang
sia-sia, bergunjing, dan mengadu domba. Rasulullah bersabda, “Seorang mukmin
bukanlah orang yang suka mencela, bukan orang yang suka mengutuk, bukan orang
yang berperangai keji, dan bukan orang yang suka berbicara kasar.” (HR. Tirmidzi)
“Barangsiapa yang banyak bicaranya, maka
banyak kesalahannya; barangsiapa yang banyak kesalahannya, maka banyak dosanya;
barangsiapa yang banyak dosanya, maka neraka lebih layak baginya.” (HR. Baihaqi)
Hendaklah menjadi seorang yang pemalu
dalam segala keadaan, namun jangan sampai menghalangi untuk berani dalam
kebenaran. Rasulullah bersabda, “Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih
cabang, atau enam puluh lebih cabang, yang paling utama adalah ucapan La Ilaha
ilallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan
malu merupakan salah satu cabang iman.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Q.S.
Asy-Syura: 43; Q.S. Al-Hijr: 85; Q.S. Az-Zumar:10; Q.S. An-Nur: 22; Q.S.
Al-Furqan: 63
Rasulullah bersabda, “Tidak akan masuk
surga seseorang yang di hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi.” (HR. Muslim)
8)
Menjauhi prasangka, ghibah, dan mencari
cela sesama Muslim
Q.S.
Al-Hujurat: 12; Q.S. Al-Ahzab: 58
10) Menjadi
teladan yang baik
4.
MENGISLAMKAN KELUARGA DAN RUMAH
TANGGA
Langkah pertama untuk
membangun masyarakat muslim dimulai dari keluarga, istri, anak-anak, kemudian kepada
kerabat dekat, kemudian yang terdekat. Itulah jalan yang ditempuh oleh
Rasulullah saat memulai dakwah. Lihat Q.S.
Asy-Syuara’: 213-215dan Q.S.
At-Tahrim: 6.
1) Tanggung
Jawab Pernikahan
1.
Pernikahan harus dilakukan semata-mata
karena Allah. Lihat Q.S. Ali ‘Imran: 34.
2.
Salah satu tujuan pernikahan adalah
menahan pandangan, memelihara kemaluan, dan bertakwa kepada Allah.
3.
Harus memilih istri, pendamping hidup,
dan teman perjalanan dengan sebaik-baiknya.
4.
Harus memilih wanita yang berakhlak dan
beragama, sekalipun lebih rendh dalam hal harta dan kecantikan.
5.
Harus berhati-hati, jangan sampai
melanggar perintah-Nya dalam hal pernikahan dan takut kepada murka dan
hukuman-Nya.
2) Tanggung
Jawab Pascapernikahan
Memilih istri dengan
sebaik-baiknya tidak berarti telah membebaskan tanggung jawab terhadapnya
setelah menikah. Bahkan, tanggung jawab terbesar dimulai sejak detik pertama
pernikahan. Berikut tanggung jawab seorang suami :
1.
Harus bersikap baik dan menghargai istri
agar tumbuh kepercayaan antara suami dan istri.
2.
Jangan sampai hubungan dengan istri
hanya sebatas hubungan ranjang dan nafsu semata, tetapi ada yang lebih penting
lagi yaitu harus ada hubungan kesesuaian dalam pemikiran, spiritual, dan emosi.Q.S. Thaha: 132 dan Q.S. Maryam: 55.
3.
Hubungan dengan istri harus mengikuti
tuntunan syara’
3) Tanggung
Jawab Bersama dalam Mendidik Anak
Kesuksesan pernikahan, pemilihan istri
yang solehah, meleburnya suami-istri dalam wadah Islam; ketiganya berperan
besar dalam mendidik anak-anak dengan pendidikan Islam.(Q.S. Al-Furqan: 74).
Manusia senantiasa
dalam pergulatan melawan nafsunya sehingga ia bisa mengalahkan nafsu, atau
nafsu itu mengalahkannya. Lihat Q.S.
Asy-Syams: 7-10.
a) Ada tipe manusia yang dikalahkan oleh
nafsu mereka, yang cenderung kepada “bumi” dan kehidupan dunia. Q.S. Al-Jatsiyah: 23.
b) Ada tipe manusia yang bersungguh-sungguh
memerangi hawa nafsu dan keinginannya. Kadang-kadang mereka berbuat salah
kemudian bertobat. Q.S. Ali ‘Imran: 135.
2)
Perangkat-Perangkat untuk Memenangkan
Pertarungan Melawan Hawa Nafsu
a)
Hati(Q.S.
Al-Anfal: 2, Q.S. Al-Haj: 46, Q.S. Muhammad: 24)
b)
Akal (Q.S. Fathir: 28, Q.S. An-Nur: 40)
3)
Indikasi Kekalahan Akhlak
Ketika hati manusia
mati atau mengeras, ketika akalnya padam atau menyimpang, dan ia kalah dalam
peperangannya melawan setan, ketika itu banyak pintu kejahatan di dalam dirinya
dan setan mengalir di dalam dirinya sebagaimana aliran darah. (Q.S. Al-Mujadilah: 19, Q.S. Al-A’raf:
16-17)
4)
Sarana-Sarana untuk Membentengi Diri
dari Masuknya Setan
Sepuluh
pintu yang dijadikan setan sebagai sarana untuk mendatangi manusia:
- Ambisi dan buruk sangka, menghadapinya dengan sikap
percaya dan menerima.
- Kecintaan kepada hidup dan panjang angan – angan,
menghadapinya dengan rasa takut terhadap datangnya kematian secara tiba-tiba.
- Keinginan untuk santai dan bersenang – senang,
menghadapinya dengan menyadari akan hilangnya nikmat dan keburukan hisab.
- Bangga diri, menghadapiny dengan mengingat karunia dan
rasa takut kepada akibat yang akan menimpa.
- Sikap meremehkan dan kurang menghargai orang lain,
menghadapinya dengan mengenali hak dan kehormatan mereka.
- Dengki, menghadapinya dengan sikap menerima dan rela
dengan pembagian yang diberikan oleh Allah kepada makhluk-makhluk-Nya.
- Riya’ dan keinginan dipuji manusia, menghadapinya
dengan keikhlasan.
- Kikir, menghadapinya dengan menyadari sirna
(fana’)-nya semua yang ada di tangan makhluk dan kekalnya pahala yang ada di
sisi Allah.
- Sombong, menghadapinya dengan sikap rendah hati.
- Tamak,
menghadapinya dengan percaya dengan apa yang ada di sisi Allah dan sikap zuhud
terhadap apa yang menjadi milik manusia.
6. HARUS YAKIN
BAHWA MASA DEPAN ADALAH MILIK ISLAM
Kepercayaan kepada Islam harus
mencapai tingkat keyakinan bahwa masa depan adalah milik agama ini. Q.S. Al-Mulk: 14.
Keyakinan itu didorong oleh beberapa
faktor, yaitu :
1)
Rabaniyah Manhaj Islam
2)
Universalitas Manhaj Islam
3)
Elastisitas Manhaj Islam
4)
Kelengkapan Manhaj Islam
5)
Keterbatasan Sistem-Sistem “Wadh’iyah”
BAB
II APA ARTINYA SAYA BERAFILIASI KEPADA PERGERAKAN ISLAM?
Bab ini memaparkan karakteristik paling
penting yang seyogianya dimiliki oleh siapa saja agar memiliki pengakuan yang
benar mengenai keislamannya.
1.
HARUS HIDUP UNTUK ISLAM
Di
dunia ini, manusia terbagi menjadi tiga golongan, yaitu :
1)
Golongan
yang Hidup untuk Dunia, merupakan kaum materialis, baik
dalam keyakinan maupun kenyataan. Al Quran menyebut mereka sebagai golongan dahriyin. (Q.S. Al-An’am: 29, Q.S. Al-Jatsiyah: 24-25)
2)
Golongan
yang Tercampakkan di Antara Dunia dan Akhirat, merupakan
golongan yang goyah keyakinannya, tersesat tindakan-tindakan mereka dalam
kehidupan dunia, tetapi mereka menyangka bahwa mereka telah melakukan kebaikan.
Mereka pada hakikatnya berpaham materialis, walaupun secara lahir mereka biasa
melakukan ritual-ritual ibadah. (Q.S.
Muhammad: 12, Q.S. Ali ‘Imran: 14, Q.S. Al-Baqarah: 204-205)
3)
Golongan
yang Menganggap Dunia sebagai Lahan bagi Kehidupan Akhirat, merupakan
mukmin sejati. Orang-orang yang menyadari hakikat kehidupan, sebagaimana mereka
mengetahui nilai dunia dibandingkan akhirat. Mereka tidak disibukkan oleh dunia
dalam merealisasikan tujuan mereka diciptakan. (Q.S. Al-An’am: 32, Q.S. Adz-Dzariyat: 56)
4)
Bagaimana
Hidup untuk Islam. Agar hidup diarahkan di jalan Islam dan
untuk Islam, maka harus mengetahui dan memegang teguh sejumlah perkara, di
antaranya :
a) Mengetahui
tujuan hidup(Q.S. Adz-Dzariyat: 56, Q.S.
Hud: 7)
b) Mengetahuinilai
dunia dibandinngkan dengan akhirat (Q.S.
At-Taubah: 38)
c) Menyadari
bahwa kematian pasti datang dan mengambil pelajaraan darinya (Q.S. Ar-Rahman: 26-27, Q.S. Ali ‘Imran:
185)
d) Mengetahui
hakikat Islam (Q.S. Thaha: 114)
e) Mengetahui
hakikat jahiliyah, dengan cara mengenali pemikiran, aliran, program, cacat, dan
kekurangannya, serta mengetahui bahaya dan mudharatnya agar bisa menghindarinya
serta mempersiapkan bekal untuk melawan dan memeranginya.
5)
Karakteristik
Manusia yang Hidup untuk Islam
Ciri-ciri dan karakter
yang membedakan antara kehidupan Islam dengan manusia secara umum adalah :
a) Teguh
dalam melaksaanakan ajaran-ajaran Islam (Q.S.
Al-Baqarah: 44).
b) Memiliki
kepedulian terhadap kemaslahatan Islam.
c) Bangga
dengan kebenaran dan yakin kepada Allah (Q.S.
Al-Munafiqun: 8, Q.S. Ali ‘Imran: 139).
d) Senantiasa
konsisten dalam memperjuangkan Islam dan tolong-menolong dengan para aktivis (Q.S. Al-Ma’idah: 2).
2.
HARUS MEYAKINI KEWAJIBAN
MEMPERJUANGKAN ISLAM
Memperjuangkan Islam
bersifat wajib dan bukan sekadar sukarela. Hal ini bisa dilihat dari beberapa
sudut pandang:
1)
Kewajibannya sebagai Prinsipà
karena ia merupakan letak bergantungnya pembebanan Allah terhadap seluruh
manusia. (Q.S. Al-Ashr: 1-3, Q.S.
Al-Ma’idah: 67, Q.S. Al-Baqarah: 159)
2)
Kewajibannya sebagai Hukum à
karena lumpuhnya hakimiyah Allah (usaha menjadikan Allah sebagai hakim) di bumi
dan berkuasa tatanan-tatanan dan peraturan-peraturan positif produk manusia
atas masyarakat mengharuskan kaum Muslimin untuk menegakkan masyarakat islami,
merintis kehidupan islami, menundukkan manusia kepada Allah dalam akidah,
akhlak, maupun tata kehidupan mereka. (Q.S.
An-Nisa’: 64, Q.S. Asy-Syura: 10, Q.S. Al-Ma’idah: 44)
3)
Kewajiban Menegakkan Islam sebagai
Kebutuhan Darurat à dilakukan dalam menghadapi tantangan
zaman dan konspirasi musuh Islam guna menghentikan gelombang materialisme dan
gerak atheisme yang telah mengancam dan mendongkel serta memusnahkan
konsistensi Islam. (Q.S. Al-Baqarah:
193)
4)
Kewajiban secara Individu dan Kolektif à
berjuang untuk Islam merupakan kewajiban individu. (Q.S. Al-Mudatsir: 17, Q.S. Maryam: 95, Q.S. Al-Isra: 7, Q.S. Al-An’am:
164, Q.S. Al-Ankabut: 6)
è
Berjuang untuk Islam merupakan kewajiban
kolektif dilihat dari segi tanggung jawab pelaksanaannya. (Q.S. Al-Ma’idah: 3)
5)
Barangsiapa Berjihad, Sesungguhnya Ia
Berjihad untuk Dirinya Sendiri. (Q.S.
Al-Ankabut: 6, Q.S. Muhammad: 38)
3.
PERGERAKAN ISLAM: MISI,
KARAKTERISTIK, DAN PERLENGKAPANNYA
1)
Misi
Pergerakan Islam, yaitu menghambakan manusia kepada
Allah sebagai pribadi maupun masyarakat dengan memperjuangkan tegaknya
masyarakat Islam yang mengambil hukum dan ajaran dari Al Quran dan As Sunnah. (Q.S. Ali ‘Imran: 85, Q.S. Ar-Rum: 4)
2)
Karakteristik
Dasar Pergerakan Islam, yang paling menonjol adalah :
a)
Merupakan pergerakan yang bercorak
ketuhanan (rabaniyah) (Q.S. Al-An’am:
162).
b)
Merupakan pergerakan independen, artinya
ia merupakan pergerakan yang muncul dari realitas masyarakat Islam, bukan impor
dari Timur atau Barat.
c)
Merupakan pergerakan yang progresif.
d)
Merupakan pergerakan komprehensif,
artinya dakwahnya tidak sebatas bertujuan memperbaiki salah satu aspek
kehidupan ini tanpa lainnya.
e) Menjauhi perselisihan fiqih, karena ia
meyakini bahwa perselisihan dalam masalah furu’ merupakan keniscayaan, karena
itu, ia mengajak untuk menyatukan kaum Muslimin dalam ikatan prinsip dan kaidah
Islam. (Q.S. Shad: 88)
3)
Spesifikasi
Gerakan Islam
a) Jauh
dari kekuasaan para penguasa dan politikus.
b) Memiliki
tahapan-tahapan dalam langkah-langkahnya. Tahapan dalam dakwah adalah ta’rif (pengenalan), takwin (pembentukan), dan tanfidz (pelaksanaan).
c) Mengutamakan
aktivitas dan produktivitas daripada klaim dan propaganda.
d) Mengatur
napas yang panjang, sehingga aktivitas dakwah dilaksanakan berdasarkan
kesadaran penuh untuk mencari ridha-Nya.
e) Nyata
dalam aktivitas, rahasia dalam organisasi.
f) Uzlah
kejiwaan, bukan fisik.
g) Tujuan
tidak menghalalkan segala cara
4)
Perlengkapan
Pergerakan Islam
a) Keimanan yang paling mendalam, kuat,
suci, dan kekal, meyakini Allah serta pertolongan dan bantuan-Nya. (Q.S. Ali ‘Imran: 160)
b)
Meyakini jalan yang ditempuh serta
keistimewaan dan kebaikannya. (Q.S.
Al-Ma’idah: 15-16)
c)
Meyakini persaudaraan serta hak-hak dan
kesakralannya.
d)
Meyakini agung dan kebesaran pahala (Q.S. At-Taubah: 121)
e) Meyakini akan diri sendiri (bahwa telah
dipilih oleh takdir Allah untuk menyelamatkan alam semesta) (Q.S. At-Taubah: 24)
4.
HARUS MENGETAHUI JALAN PERJUANGAN
ISLAM
Agar afiliasi dengan
pergerakan Islam merupakan afiliasi yang dilandasi dengan kesadaran penuh,
bukan pertimbangan emosional dan membabi buta. Pejuangan Islam yang berdiri di
atas konsep dasar perubahan total (tagyir
kuliy) dan melakukan persiapan untuk transformasi total, juga yang memikul
bendera Islam dan berusaha mengaplikasikannya secara utuh adalah perjuangan
lurus yang mencerminkan garis perjuangan Islam yang mendasar, apapun nama dan
atribut luarnya.
5.
HARUS MENGETAHUI DIMENSI-DIMENSI
AFILIASI KEPADA PERGERAKAN ISLAM
Afiliasi dalam Akidah à
pergerakan ini menolak afiliasi ketokohan yang biasa terjadi pada
kelompok-kelompok paternalistis yang bisa dianggap sebagai kuman yang akan
menghancurkannya. (Q.S. Al-Fath: 10)
Afiliasi dalam Tujuan à
hendaklah keanggotaannya merupakankenggotaan dalam tujuan, dengan makna bahwa
tujuan anggota hendaklah terkait dengan tujuan jamaah dalam kondisi bagaimana
pun. (Q.S. Al-Ankabut: 10-11, Q.S.
Al-Haj: 11, Q.S. Ali ‘Imran: 146-148)
6.
HARUS MENGETAHUI POROS-POROS
PERJUANGAN ISLAM
1)
Poros Perjuangan Islam. Ada tiga poros
bagi kesuksesan Islam, yaitu :
a)
Kejelasan tujuan à
banyak mengefisienkan energi para aktivis dan selanjutnya menyimpan energi ini
agar tak habis dan hilang dalam mengahadapi persoalan marjinal dan konflik
lateral. (Q.S. Adz-Dzariyat: 56)
b)
Kejelasan jalan à
jalan perjuangan Islam harus tunduk pada kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip baku
yang digariskan oleh tujuan dasar perjuangan dan dikuatkan oleh terjemahan
riilnya dalam sirah(sejarah hidup)
Rasulullah. Beberapa karakter jalan yang harus ditempuh oleh pergerakan Islam
adalah :
1. Bersifat transformatif : tidak akan mau
sekadar menambal atau menerima solusi parsial, tidak mau menerima untuk
beradaptasi dengan konsep jahiliyah, tidak bisa menerima untuk hidup bersama
dengan berbagai paham produk manusia
2. Bersifat komprehensif : menuntut adanya
watak “totalitas” (kuliyah) dalam
perjuangan Islam dengan segala makna yang terkandung di dalamnya, dengan segala
indikasi yang dibawa olehnya, dan dengan segala dimensi yang menyertainya.
3. Bersifat universal : aktivitas
perjuangan Islam harus mencapai seluruh dunia dalam hal kesadaran, perencanaan,
dan pengorganisasian
c)
Komitmen terhadap jalan Rasulullah
Penjelasan mengenai
rambu-rambu jalan Nabi dijelaskan melaui poin-poin utama berikut :
Pertama,
pernyataan sejak pertama kali bahwa peribadahan hanya untuk Allah, tanpa
dibuat-buat atau berbelok, agar tujuan menjadi jelas. (Q.S. Al-Anfal: 37, Q.S. Al-Kafirun: 1-6)
Kedua,
pembentukan komunitas pergerakan yang memili ikatan akidah dan keimanan kepada
Allah, yang secara keorganisasian patuh kepada seorang pemimpin yang sadar dan
berjalan dengan petunjuk dan cahaya Allah.
Ketiga,
menghadapi kejahiliyahan secara total, tetapi dengan kesadaran.
2)
Posisi Kekuatan Fisik dalam Strategi
Pergerakan
Kekuatan adalah syiar
Islam dalam setiap tatanan dan syariatnya. Al Quran telah menjelaskan dalam
surat Al-Anfal: 60. Rasulullah juga
bersabda, “Orang mukmin yang kuat itu lebih baik daripada orang mukmin yang
lemah.” (HR. Muslim)
Kekuatan yang paling utama adalah kekuatan akidah dan iman,
setelah itu adalah kekuatan kesatuan dan ikatan.
7.
HARUS MENGETAHUI PERSYARATAN BAIAT
DAN KEANGGOTAAN
Sebisa mungkin seorang
Muslim hendaknya bersama-sama dengan pergerakan Islam dalam memikul beban
perjuangan Islam, yaitu dengan cara bergabung dalam barisannya. Namun ada
hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
1)
Kualitas bukan Kuantitas (Q.S. At-Taubah: 25)
Baiat adalah janji
untuk menaati, yang merupakan sunah Nabi yang diberikan oleh kaum Muslimin kepada
Rasulullah berkali-kali semasa beliau masih hidup.
Taat adalah
melaksanakan perintah dan merupakan kewajiban selama bukan dalam hal maksiat. (Q.S. An-Nisa’: 59)
4)
Rukun-Rukun Baiat, yaitu al-fahm (pemahaman), al-ikhlash (keikhlasan), al-a’mal (amal), al-jihad (jihad), at-tadhiyah
(pengorbanan), at-tha’ah (ketaatan), ats-tsabat (keteguhan), at-tajarud (dedikasi), al-ukhuwah (persaudaraan), dan ats-tsiqah (kepercayaan).
5)
Kewajiban-kewajiban Akhi Muslim :
1.
Wirid harian dari Alquran tidak kurang
dari satu juz.
2.
Membaca, mendengarkan dan merenungkan
makna Al Quran dengan baik.
4.
Hindari konsumsi kopi, teh, dan minuman
perangsang lainnya secara berlebihan.
5.
Memperhatikan kebersihan.
8.
Menjadi orang yang pemberani dan tabah.
9.
Bersikap tenang dan mengutamakan sikap
serius.
10. Menjadi orang yang pemalu, halus
perasaan, segera merasakan pengaruh kebaikan dan keburukan, bergembira dengan
kebaikan dan bersedih dengan keburukan.
11.
Menjadi orang yang adil, benar dalam
membuat keputusan.
12.
Menjadi orang yang energik, membiasakan
diri dengan pekerjaan untuk membantu masyarakat.
13.
Menjadi orang berhati penyayang, pemurah
dan lapang dada.
14.
Menjadi orang yang pandai membaca dan
menulis.
15.
Tekuni satu pekerjaan bernilai ekonomi
sekalipun Anda orang kaya.
16.
Jangan berambisi memegang jabatan dalam
pemerintahan.
17.
Memiliki minat yang tinggi untuk
mejalankan profesi dengan sebaik dan sesempurna mungkin.
18.
Bersikap baik dalam menuntut hak, tetapi
memenuhi hak orang lain dengan sempurna.
21.
Membantu perkembangan perekonomian Islam
secara umum.
22.
Berpartisipasi dalam dakwah dengan
sebagian harta, menunaikan zakat wajib, dan menetapkan bagian tertentu untuk
sedekah.
23.
Menabung sebagian penghasilan.
24.
Berusaha menghidupkan tradisi Islami dan
mematikan tradisi impor.
25.
Memboikot pengadilan adat dan semua
pengadilan tidak islami, koran, organisasi, sekolah, dan lembaga yang memusuhi
fikrah yang Islami.
26. Senantiasa menyadari pengawasan Allah,
mengingat akhirat, mempersiapkan diri untuk menghadapinya, serta menempuh
tahapan-tahapan perjalanan menuju ridha Allah dengan penuh semangat dan tekad.