Desember 05, 2014

Cara Mempercepat Koneksi Internet
    Di sini saya akan menjelaskan cara mempercepat internet khusus bagi pengguna WiFi.

Cara Mempercepat Koneksi Internet Wifi

    Kawan, apa jadinya ketika sedang asik mengakses internet melalui wifi tiba-tiba koneksi ngadat atau lemot? Pasti menjengkelkan, bukan? Nah, jika anda mengalami masalah tersebut bisa mencoba tips berikut ini .

# Cara Pertama :
1. Buka Notepad pada laptop anda

2. Ketikkan "Ping Google.com-t" (tanpa tanda petik ya)

3. Lalu Save As dengan type "All Files"

4. Beri nama file dengan "PINGX.BAT" (lagi-lagi tanpa tanda petik)

# Cara Kedua :
Mempercepat koneksi internet wifi dengan CMD, bukan dengan netcut dan tuxcut .
  1. START- RUN - ketik cmd lalu enter
  2. Kemudian ketik "ipconfig /all" (tanpa kutip bray)
  3. Kemudian kamu cari "DNS Servers kamu" misalkan 10.0.1.2
  4. Jika sudah melihat DNS kamu silakan catat terlebih dahulu. lalu tekan enter 1x
  5. Jadi, kamu harus mengetik "ping -l 500 10.0.1.2 -t" (tanpa kutip lho)
  6. Tekan enter dan selamat berselancar di internet menggunakan wifi yang super cepat.
NB. Dalam menggunakan koneksi WiFi anda juga harus memperhatikan jarak anda dengan pusat jaringan WIFI tersebut, cara mempercepat koneksi internet WiFi ini akan sangat percuma jika jarak terlalu jauh.


Sumber :

http://www.indoza.com/2014/03/cara-mempercepat-koneksi-wifi-yang-lemah.html

November 12, 2014

BERSAMA KALIAN "RADIASI"














KEBERSAMAAN YANG TAK AKAN MUNGKIN TERULANG LAGI, KAWAN...
TERIMA KASIH TELAH MENJADI SAHABAT DALAM HIDUPKU...
AKU, KALIAN, KITA, JANGAN SAMPAI SALING MELUPAKAN...
WAKTU TAK AKAN MUNGKIN BISA KITA PUTAR KEMBALI...
MASA ITU, MASA DIMANA KITA SEMUA BERSAMA MENJALANI SEBUAH PROSES MENUJU KEHIDUPAN DIMANA KITA YANG AKAN BERPERAN SEBAGAI PERAN UTAMA...

TETAP JAGA SILATURAHIM DI ANTARA KITA, GUYS...
WALAUPUN KITA SUDAH HIDUP DI DUNIA MASING-MASING, INGATLAH KENANGAN INDAH KITA SEWAKTU ITU...
SELAMAT MENEMPUH KEHIDUPANMU, KAWAN...
TETAP SEMANGAT YAAH...
DON'T FORGET ME...
MAAFKAN JIKA TEMANMU INI PERNAH SALAH...
^_^

November 30, 2013

KOMITMEN MUSLIM SEJATI


BAB I APA ARTINYA SAYA MENGAKU MUSLIM ?
Berisi tentang karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang muslim sehingga ia bisa benar-benar menjadi muslim sejati. Bab ini juga menjelaskan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh siapa saja yang menyatakan diri sebagai pemeluk agama Islam. Adapun karakteristik yang dimaksud adalah :
1.    MENGISLAMKAN AKIDAH
    Syarat pertama pengakuan sebagai muslim adalah hendaklah akidahnya adalah akidah yang benar dan sahih, selaras dengan apa yang terdapat dalam Al Quran dan As Sunnah.
Untuk mengislamkan akidah, maka konsekuensinya adalah :
  1. Harus meyakini bahwa pencipta alam ini adalah Allah dengan bukti adanya keindahan, kesempurnaan, keserasian, dan ketergantungan sebagiannya kepada sebagian lain yang mustahil ia bisa bertahan dan terus ada tanpa dikendalikan oleh Tuhan Al-‘Aliy (Yang Maha Tinggi) dan Al-Qadir (Yang Maha Kuasa) ini.(Q.S. Al-Anbiya’: 22)
  2. Harus mengimani bahwa Al-Khaliq tidak menciptakan alam semesta ini secara sia-sia. (Q.S. Al-Mukminun: 115-116)
  3. Harus meyakini bahwa Allah telah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab untuk mengenalkan manusia kepada pengetahuan tentang Dia, tujuan penciptaan mereka, awal kejadian mereka, dan tempat kembali mereka. (Q.S. An-Nahl: 36)
  4. Harus meyakini bahwa tujuan keberadaan manusia ini adalah mengenal Allah, menaati-Nya dan beribadah kepada-Nya. (Q.S. Adz-Dzariyat: 56-58)
  5. Harus meyakini bahwa balasan bagi orang mukmin yang taat adalah surga, sedangkan balasan bagi orang kafir yang bermaksiat adalah neraka.(Q.S. Asy-Syura: 7)
  6. Harus meyakini bahwa manusia melaksanakan kebajikan dan kejahatan dengan ikhtiar dan kehendaknya. Akan tetapi, ia tidak bisa melaksanakan kebaikan kecuali dengan taufik dan pertolongan Allah. Ia tidak melakukan kejahatan semata-mata karena paksaan dari Allah, tetapi dalam kerangka izin dan kehendak-Nya. (Q.S. Asy-Syams: 7-10)
  7. Harus meyakini bahwa menetapkan syariat merupakan hak Allah yang tidak boleh dilanggar. (Q.S. Asy-Syura: 10)
  8. Harus mengetahui nama-nama dan sifat-sifat Allah yang selaras dengan keagungan-Nya. “Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama –seratus kurang satu– tidak seorangpun menghafalnya kecuali ia masuk surga. Dia witir dan mencintai apa yang witir (ganjil).” (HR. Bukhari dan Muslim)
  9. Harus merenungkan mengenai ciptaan Allah, bukan mengenai Dzat-Nya, sebagai pelaksanaan sabda Rasulullah : “Berpikirlah tentang ciptaan Allah, tetapi jangan berpikir tentang Allah, karena kalian tidak mungkin mengenal dengan sebenar-benar pengetahuan mengenai-Nya.” (HR. Abu Nu’aim)
  10. Sifat-sifat Allah banyak diisyaratkan oleh ayat Al Quran dan merupakan sifat uluhiyah (ketuhanan).
  11. Harus meyakini bahwa pendapat para salaf lebih utama untuk diikuti, khususnya dalam persoalan takwil dan ta’thil, serta menyerahkan pengetahuan mengenai makna-makna ini kepada Allah.
  12. Harus beribadah kepada Allah tanpa mempersekutukan-Nya. (Q.S. An-Nahl: 36)
  13. Takut kepada-Nya dan tidak takut kepada selain-Nya. Rasa takut itu harus mendorong untuk menjauhi apa yang dimurkai dan diharamkan-Nya. (Q.S. An-Nur: 52; Q.S. Al-Mulk: 12)
  14. Harus mengingat-Nya dan senantiasa mengingat-Nya. Diamku harus merupakan berpikir dan bicaraku merupakan dzikir. (Q.S. Ar-Ra’d: 28; Q.S. Az-Zukhruf: 36-37)
  15. Harus mencintai Allah dengan kecintaan yang menjadikan hati senantiasa  merindukan keagungan-Nya, tertambat pada-Nya, sehingga mendorong untuk senantiasa menambah kebaikan, berkorban, dan berjihad di jalan-Nya selama-lamanya. Cinta kepada-Nya tidak boleh dihalangi oleh kecintaan akan kekayaan dunia maupun keluarga. (Q.S. At-Taubah: 24)
  16. Harus bertawakal kepada Allah dalam segala keadaan dan menggantungkan diri kepada-Nya dalam segala urusan. Sikap ini akan menumbuhkan kekuatan dan spirit yang bisa memudahkan dalam menghadapi kesulitan. (Q.S. Ath-Thalaq: 3)
  17. Harus bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya yang tak terhingga serta segala karunia dan rahmat-Nya yang tak terhitung.(Q.S. Yasin: 33-35; Q.S. Ibrahim: 7)
  18. Harus beristighfar memohon ampunan Allah dan senantiasa beristighfar. Istighfar merupakan kafarah (hal yang menghapuskan dosa), memperbarui tobat dan iman, dan menumbuhkan perasaan tenang dan tenteram. (Q.S. An-Nisa’: 110; Q.S. Ali ‘Imran: 135-136)
  19. Harus menyadari muraqabah (pengawasan) Allah baik dalam keadaan sendiri maupun berada di tengah-tengah manusia. (Q.S. Al-Mujadilah: 7)

2.    MENGISLAMKAN IBADAH
    Dalam Islam, ibadah merupakan puncak ketundukan dan puncak kesadaran mengenai keagungan ma’bud (Tuhan yang disembah). Ia merupakan tangga yang menghubungkan makhluk dengan Khaliq. Ia juga memiliki pengaruh yang mendalam dalam interaksi antarsesama hamba Allah. Dalam hal ini, seluruh rukun Islam seperti shalat, zakat, puasa dan haji memiliki kedudukan yang sama dengan amalan lain yang seyogianya manusia melaksanakan untuk mencari ridha Allah dan mengikuti tentunan syariat-Nya. Lihat Q.S. Adz-Dzariyat: 56-58 dan Q.S. Al-An’am: 163.
Untuk mengislamkan ibadah, maka konsekuensinya adalah :
  1. Ibadah harus “hidup” dan “tersambung” kepada ma’bud. Inilah derajat ihsan dalam ibadah.“Hendaklah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, jika kamu idak bisa (seakan-akan) melihat-Nya, maka (sadarilah bahwa) Ia melihatmu.” (Mutafaq alaih)
  2. Ibadah harus khusyuk. “Alangkah banyaknya orang yang berdiri melaksanakan shalat, tetapi yang diperoleh dari shalatnya hanyalah kelelahan dan kepayahan.” (HR. An-Nasa’i)
  3. Dalam beribadah hati harus sepenuh hati, melepaskan pikiran dari sekeliling, yaitu kesibukan dan keinginan duniawi. “Allah tidak akan melihat shalat yang dilakukan oleh seseorang yang hatinya tidak hadir di dalamnya bersama badannya (tidak dilakukan sepenuh hati).” (Musnad Al-Firdausi). Dikatakan pula, “Shalat adalah bagian dari akhirat. Maka jika kamu telah memasuki akhirat, kamu harus keluar dari dunia.”
  4. Dalam beribadah jangan pernah puas. “Barangsiapa memerangi kekasih-Ku, maka Aku mengizinkan untuk memeranginya. Tidaklah hamba-Ku bertaqarub kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada sesuatu yang telah Aku wajibkan atasnya. Hamba-Ku akan senantiasa bertaqarub kepada-Ku dengan melakukan nawafil (ibadah-ibadah sunnah), sampai Aku mencintainya. Dan apabila Aku sudah mencintainya, maka Aku akan menjadi telinganya yang dipakainya untuk mendengar, menjadi matanya yang dipakainya untuk melihat, menjadi tangannya yang dipakainya untuk memukul, dan kakinya yang dipakainya untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti mengabulkannya, jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pasti melindunginya. Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu yang Kulakukan seperti keraguan-Ku mencabut nyawa hamba-Ku yang mukmin yang tidak suka kematian sedangkan Aku tidak suka menyakitinya.” (HR. Bukhari)
  5. Harus memiliki keinginan yang besar untuk melaksanakan qiyamulail (shalat malam) serta melatihnya sampai terbiasa, karena qiyamulail merupakan salah satu “mesin keimanan” yang paling besar. LihatQ.S. Al-Muzamil: 6; Q.S. Adz-Dzariyat: 17-18; Q.S. As-Sajdah: 16). Beberapa ibadah nafilah yang seyogianya kontinu dilaksanakan, yaitu qiyamulail, shalat Dhuha, shalat Tarawih, puasa Senin dan Kamis, puasa Arafah bagi yang tidak melaksanakan haji, puasa Asyura, puasa enam hari di bulan Syawal, puasa ayamul-bidh (tanggal 13, 14, 15 bulan Qamariah), serta i’tikaf.
  6. Hendaknya menyediakan waktu untuk membaca dan merenungkan Alquranul Karim, khususnya pada waktu fajar.(Q.S. Al-Isra’: 78)
  7. Doa harus menjadi tangga untuk memohon kepada Allah dalam setiap keadaan. Doa merupakan intisari ibadah. Kita harus berusaha keras untuk menggunakan doa yang ma’tsur.

3.    MENGISLAMKAN AKHLAK
    Berakhlak mulia merupakan tujuan pokok dari risalah Islam, sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasulullah dalam sebuah haditsnya, “Sesungguhnya aku diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Sifat-sifat yang seyogianya terdapat pada seseorang agar ia berakhlak Islami adalah :
1)        Bersikap wara’ (hati-hati) terhadap syubhat.
       Rasulullah bersabda, “Yang halal itu jelas, yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat hal-hal samar-samar yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Barangsiapa yang memelihara diri dari syubhat, berarti telah membersihkan kehormatan dan agamanya. Dan barangsiapa yang terjatuh dalam syubhat, berarti telah terjatuh dalam hal yang diharamkan. Seperti penggembala di sekitar tanah larangan, hampir-hampir ia terjerumus ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai tanah larangan, dan ketahuilah sesungguhnya tanah larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging. Apabila ia baik, maka seluruh tubuh itu baik; tapi jika ia rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, itu adalah hati.”(HR. Bukhori)
2)        Menahan pandangan (Ghadhul Bashar)
     Hendaklah menahan pandangan dari segala yang diharamkan oleh Allah karena pandangan itu menimbulkan keinginan dan secara bertahap akan membawa pelakunya untuk melakukan dosa dan kemaksiatan. Lihat Q.S An-Nur: 30-31. Rasulullah bersabda, “Pandangan adalah salah satu panah iblis.” (HR. Thabrani)
3)        Menjaga lidah
       Hendaklah menjaga lidah dari berbicara yang berlebihan, kata-kata kotor, kalimat-kalimat kasar, pembicaraan yang sia-sia, bergunjing, dan mengadu domba. Rasulullah bersabda, “Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, bukan orang yang suka mengutuk, bukan orang yang berperangai keji, dan bukan orang yang suka berbicara kasar.” (HR. Tirmidzi)
“Barangsiapa yang banyak bicaranya, maka banyak kesalahannya; barangsiapa yang banyak kesalahannya, maka banyak dosanya; barangsiapa yang banyak dosanya, maka neraka lebih layak baginya.” (HR. Baihaqi)
4)        Malu (haya’)
   Hendaklah menjadi seorang yang pemalu dalam segala keadaan, namun jangan sampai menghalangi untuk berani dalam kebenaran. Rasulullah bersabda, “Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih cabang, atau enam puluh lebih cabang, yang paling utama adalah ucapan La Ilaha ilallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu merupakan salah satu cabang iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)
5)        Pemaaf dan sabar
       Q.S. Asy-Syura: 43; Q.S. Al-Hijr: 85; Q.S. Az-Zumar:10; Q.S. An-Nur: 22; Q.S. Al-Furqan: 63
6)        Jujur
7)        Rendah hati
       Rasulullah bersabda, “Tidak akan masuk surga seseorang yang di hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi.” (HR. Muslim)
8)        Menjauhi prasangka, ghibah, dan mencari cela sesama Muslim
       Q.S. Al-Hujurat: 12; Q.S. Al-Ahzab: 58
9)        Dermawan dan pemurah
       Q.S. Al-Baqarah: 3, 272
10)    Menjadi teladan yang baik

4.    MENGISLAMKAN KELUARGA DAN RUMAH TANGGA
   Langkah pertama untuk membangun masyarakat muslim dimulai dari keluarga, istri, anak-anak, kemudian kepada kerabat dekat, kemudian yang terdekat. Itulah jalan yang ditempuh oleh Rasulullah saat memulai dakwah. Lihat Q.S. Asy-Syuara’: 213-215dan Q.S. At-Tahrim: 6.
1)   Tanggung Jawab Pernikahan
1.    Pernikahan harus dilakukan semata-mata karena Allah. Lihat Q.S. Ali ‘Imran: 34.
2.    Salah satu tujuan pernikahan adalah menahan pandangan, memelihara kemaluan, dan bertakwa kepada Allah.
3.    Harus memilih istri, pendamping hidup, dan teman perjalanan dengan sebaik-baiknya.
4.    Harus memilih wanita yang berakhlak dan beragama, sekalipun lebih rendh dalam hal harta dan kecantikan.
5.    Harus berhati-hati, jangan sampai melanggar perintah-Nya dalam hal pernikahan dan takut kepada murka dan hukuman-Nya.
2)   Tanggung Jawab Pascapernikahan
Memilih istri dengan sebaik-baiknya tidak berarti telah membebaskan tanggung jawab terhadapnya setelah menikah. Bahkan, tanggung jawab terbesar dimulai sejak detik pertama pernikahan. Berikut tanggung jawab seorang suami :
1.    Harus bersikap baik dan menghargai istri agar tumbuh kepercayaan antara suami dan istri.
2.    Jangan sampai hubungan dengan istri hanya sebatas hubungan ranjang dan nafsu semata, tetapi ada yang lebih penting lagi yaitu harus ada hubungan kesesuaian dalam pemikiran, spiritual, dan emosi.Q.S. Thaha: 132 dan Q.S. Maryam: 55.
3.    Hubungan dengan istri harus mengikuti tuntunan syara’
3)   Tanggung Jawab Bersama dalam Mendidik Anak
Kesuksesan pernikahan, pemilihan istri yang solehah, meleburnya suami-istri dalam wadah Islam; ketiganya berperan besar dalam mendidik anak-anak dengan pendidikan Islam.(Q.S. Al-Furqan: 74).

5.    MENGALAHKAN NAFSU
     Manusia senantiasa dalam pergulatan melawan nafsunya sehingga ia bisa mengalahkan nafsu, atau nafsu itu mengalahkannya. Lihat Q.S. Asy-Syams: 7-10.
1)   Sifat-Sifat Manusia
a)  Ada tipe manusia yang dikalahkan oleh nafsu mereka, yang cenderung kepada “bumi” dan kehidupan dunia. Q.S. Al-Jatsiyah: 23.
b)   Ada tipe manusia yang bersungguh-sungguh memerangi hawa nafsu dan keinginannya. Kadang-kadang mereka berbuat salah kemudian bertobat. Q.S. Ali ‘Imran: 135.
2)   Perangkat-Perangkat untuk Memenangkan Pertarungan Melawan Hawa Nafsu
a)      Hati(Q.S. Al-Anfal: 2, Q.S. Al-Haj: 46, Q.S. Muhammad: 24)
b)      Akal (Q.S. Fathir: 28, Q.S. An-Nur: 40)
3)   Indikasi Kekalahan Akhlak
Ketika hati manusia mati atau mengeras, ketika akalnya padam atau menyimpang, dan ia kalah dalam peperangannya melawan setan, ketika itu banyak pintu kejahatan di dalam dirinya dan setan mengalir di dalam dirinya sebagaimana aliran darah. (Q.S. Al-Mujadilah: 19, Q.S. Al-A’raf: 16-17)
4)   Sarana-Sarana untuk Membentengi Diri dari Masuknya Setan
Sepuluh pintu yang dijadikan setan sebagai sarana untuk mendatangi manusia:
  1. Ambisi dan buruk sangka, menghadapinya dengan sikap percaya dan menerima.
  2. Kecintaan kepada hidup dan panjang angan – angan, menghadapinya dengan rasa takut terhadap datangnya kematian secara tiba-tiba.
  3. Keinginan untuk santai dan bersenang – senang, menghadapinya dengan menyadari akan hilangnya nikmat dan keburukan hisab.
  4. Bangga diri, menghadapiny dengan mengingat karunia dan rasa takut kepada akibat yang akan menimpa.
  5. Sikap meremehkan dan kurang menghargai orang lain, menghadapinya dengan mengenali hak dan kehormatan mereka.
  6. Dengki, menghadapinya dengan sikap menerima dan rela dengan pembagian yang diberikan oleh Allah kepada makhluk-makhluk-Nya.
  7. Riya’ dan keinginan dipuji manusia, menghadapinya dengan keikhlasan.
  8. Kikir, menghadapinya dengan menyadari sirna (fana’)-nya semua yang ada di tangan makhluk dan kekalnya pahala yang ada di sisi Allah.
  9. Sombong, menghadapinya dengan sikap rendah hati.
  10. Tamak, menghadapinya dengan percaya dengan apa yang ada di sisi Allah dan sikap zuhud terhadap apa yang menjadi milik manusia.


6.    HARUS YAKIN BAHWA MASA DEPAN ADALAH MILIK ISLAM
   Kepercayaan kepada Islam harus mencapai tingkat keyakinan bahwa masa depan adalah milik agama ini. Q.S. Al-Mulk: 14.
Keyakinan itu didorong oleh beberapa faktor, yaitu :
1)        Rabaniyah Manhaj Islam
2)        Universalitas Manhaj Islam
3)        Elastisitas Manhaj Islam
4)        Kelengkapan Manhaj Islam
5)        Keterbatasan Sistem-Sistem “Wadh’iyah”
                                                                                           
BAB II APA ARTINYA SAYA BERAFILIASI KEPADA PERGERAKAN ISLAM?
Bab ini memaparkan karakteristik paling penting yang seyogianya dimiliki oleh siapa saja agar memiliki pengakuan yang benar mengenai keislamannya.
1.    HARUS HIDUP UNTUK ISLAM
Di dunia ini, manusia terbagi menjadi tiga golongan, yaitu :
1)   Golongan yang Hidup untuk Dunia, merupakan kaum materialis, baik dalam keyakinan maupun kenyataan. Al Quran menyebut mereka sebagai golongan dahriyin. (Q.S. Al-An’am: 29, Q.S. Al-Jatsiyah: 24-25)
2)   Golongan yang Tercampakkan di Antara Dunia dan Akhirat, merupakan golongan yang goyah keyakinannya, tersesat tindakan-tindakan mereka dalam kehidupan dunia, tetapi mereka menyangka bahwa mereka telah melakukan kebaikan. Mereka pada hakikatnya berpaham materialis, walaupun secara lahir mereka biasa melakukan ritual-ritual ibadah. (Q.S. Muhammad: 12, Q.S. Ali ‘Imran: 14, Q.S. Al-Baqarah: 204-205)
3)   Golongan yang Menganggap Dunia sebagai Lahan bagi Kehidupan Akhirat, merupakan mukmin sejati. Orang-orang yang menyadari hakikat kehidupan, sebagaimana mereka mengetahui nilai dunia dibandingkan akhirat. Mereka tidak disibukkan oleh dunia dalam merealisasikan tujuan mereka diciptakan. (Q.S. Al-An’am: 32, Q.S. Adz-Dzariyat: 56)
4)   Bagaimana Hidup untuk Islam. Agar hidup diarahkan di jalan Islam dan untuk Islam, maka harus mengetahui dan memegang teguh sejumlah perkara, di antaranya :
a)    Mengetahui tujuan hidup(Q.S. Adz-Dzariyat: 56, Q.S. Hud: 7)
b)   Mengetahuinilai dunia dibandinngkan dengan akhirat (Q.S. At-Taubah: 38)
c)    Menyadari bahwa kematian pasti datang dan mengambil pelajaraan darinya (Q.S. Ar-Rahman: 26-27, Q.S. Ali ‘Imran: 185)
d)   Mengetahui hakikat Islam (Q.S. Thaha: 114)
e)    Mengetahui hakikat jahiliyah, dengan cara mengenali pemikiran, aliran, program, cacat, dan kekurangannya, serta mengetahui bahaya dan mudharatnya agar bisa menghindarinya serta mempersiapkan bekal untuk melawan dan memeranginya.
5)   Karakteristik Manusia yang Hidup untuk Islam
Ciri-ciri dan karakter yang membedakan antara kehidupan Islam dengan manusia secara umum adalah :
a)    Teguh dalam melaksaanakan ajaran-ajaran Islam (Q.S. Al-Baqarah: 44).
b)   Memiliki kepedulian terhadap kemaslahatan Islam.
c)    Bangga dengan kebenaran dan yakin kepada Allah (Q.S. Al-Munafiqun: 8, Q.S. Ali ‘Imran: 139).
d)   Senantiasa konsisten dalam memperjuangkan Islam dan tolong-menolong dengan para aktivis (Q.S. Al-Ma’idah: 2).

2.        HARUS MEYAKINI KEWAJIBAN MEMPERJUANGKAN ISLAM
Memperjuangkan Islam bersifat wajib dan bukan sekadar sukarela. Hal ini bisa dilihat dari beberapa sudut pandang:
1)   Kewajibannya sebagai Prinsipà karena ia merupakan letak bergantungnya pembebanan Allah terhadap seluruh manusia. (Q.S. Al-Ashr: 1-3, Q.S. Al-Ma’idah: 67, Q.S. Al-Baqarah: 159)
2)   Kewajibannya sebagai Hukum à karena lumpuhnya hakimiyah Allah (usaha menjadikan Allah sebagai hakim) di bumi dan berkuasa tatanan-tatanan dan peraturan-peraturan positif produk manusia atas masyarakat mengharuskan kaum Muslimin untuk menegakkan masyarakat islami, merintis kehidupan islami, menundukkan manusia kepada Allah dalam akidah, akhlak, maupun tata kehidupan mereka. (Q.S. An-Nisa’: 64, Q.S. Asy-Syura: 10, Q.S. Al-Ma’idah: 44)
3)   Kewajiban Menegakkan Islam sebagai Kebutuhan Darurat à dilakukan dalam menghadapi tantangan zaman dan konspirasi musuh Islam guna menghentikan gelombang materialisme dan gerak atheisme yang telah mengancam dan mendongkel serta memusnahkan konsistensi Islam. (Q.S. Al-Baqarah: 193)
4)   Kewajiban secara Individu dan Kolektif à berjuang untuk Islam merupakan kewajiban individu. (Q.S. Al-Mudatsir: 17, Q.S. Maryam: 95, Q.S. Al-Isra: 7, Q.S. Al-An’am: 164, Q.S. Al-Ankabut: 6)
è Berjuang untuk Islam merupakan kewajiban kolektif dilihat dari segi tanggung jawab pelaksanaannya. (Q.S. Al-Ma’idah: 3)
5)   Barangsiapa Berjihad, Sesungguhnya Ia Berjihad untuk Dirinya Sendiri. (Q.S. Al-Ankabut: 6, Q.S. Muhammad: 38)

3.        PERGERAKAN ISLAM: MISI, KARAKTERISTIK, DAN PERLENGKAPANNYA
1)   Misi Pergerakan Islam, yaitu menghambakan manusia kepada Allah sebagai pribadi maupun masyarakat dengan memperjuangkan tegaknya masyarakat Islam yang mengambil hukum dan ajaran dari Al Quran dan As Sunnah. (Q.S. Ali ‘Imran: 85, Q.S. Ar-Rum: 4)
2)   Karakteristik Dasar Pergerakan Islam, yang paling menonjol adalah :
a)    Merupakan pergerakan yang bercorak ketuhanan (rabaniyah) (Q.S. Al-An’am: 162).
b)   Merupakan pergerakan independen, artinya ia merupakan pergerakan yang muncul dari realitas masyarakat Islam, bukan impor dari Timur atau Barat.
c)    Merupakan pergerakan yang progresif.
d)   Merupakan pergerakan komprehensif, artinya dakwahnya tidak sebatas bertujuan memperbaiki salah satu aspek kehidupan ini tanpa lainnya.
e)  Menjauhi perselisihan fiqih, karena ia meyakini bahwa perselisihan dalam masalah furu’ merupakan keniscayaan, karena itu, ia mengajak untuk menyatukan kaum Muslimin dalam ikatan prinsip dan kaidah Islam. (Q.S. Shad: 88)
3)   Spesifikasi Gerakan Islam
a)    Jauh dari kekuasaan para penguasa dan politikus.
b) Memiliki tahapan-tahapan dalam langkah-langkahnya. Tahapan dalam dakwah adalah ta’rif (pengenalan), takwin (pembentukan), dan tanfidz (pelaksanaan).
c)    Mengutamakan aktivitas dan produktivitas daripada klaim dan propaganda.
d)   Mengatur napas yang panjang, sehingga aktivitas dakwah dilaksanakan berdasarkan kesadaran penuh untuk mencari ridha-Nya.
e)    Nyata dalam aktivitas, rahasia dalam organisasi.
f)     Uzlah kejiwaan, bukan fisik.
g)    Tujuan tidak menghalalkan segala cara
4)   Perlengkapan Pergerakan Islam
a)  Keimanan yang paling mendalam, kuat, suci, dan kekal, meyakini Allah serta pertolongan dan bantuan-Nya. (Q.S. Ali ‘Imran: 160)
b)   Meyakini jalan yang ditempuh serta keistimewaan dan kebaikannya. (Q.S. Al-Ma’idah: 15-16)
c)    Meyakini persaudaraan serta hak-hak dan kesakralannya.
d)   Meyakini agung dan kebesaran pahala (Q.S. At-Taubah: 121)
e)  Meyakini akan diri sendiri (bahwa telah dipilih oleh takdir Allah untuk menyelamatkan alam semesta) (Q.S. At-Taubah: 24)

4.        HARUS MENGETAHUI JALAN PERJUANGAN ISLAM
Agar afiliasi dengan pergerakan Islam merupakan afiliasi yang dilandasi dengan kesadaran penuh, bukan pertimbangan emosional dan membabi buta. Pejuangan Islam yang berdiri di atas konsep dasar perubahan total (tagyir kuliy) dan melakukan persiapan untuk transformasi total, juga yang memikul bendera Islam dan berusaha mengaplikasikannya secara utuh adalah perjuangan lurus yang mencerminkan garis perjuangan Islam yang mendasar, apapun nama dan atribut luarnya.

5.        HARUS MENGETAHUI DIMENSI-DIMENSI AFILIASI KEPADA PERGERAKAN ISLAM
Afiliasi dalam Akidah à pergerakan ini menolak afiliasi ketokohan yang biasa terjadi pada kelompok-kelompok paternalistis yang bisa dianggap sebagai kuman yang akan menghancurkannya. (Q.S. Al-Fath: 10)
Afiliasi dalam Tujuan à hendaklah keanggotaannya merupakankenggotaan dalam tujuan, dengan makna bahwa tujuan anggota hendaklah terkait dengan tujuan jamaah dalam kondisi bagaimana pun. (Q.S. Al-Ankabut: 10-11, Q.S. Al-Haj: 11, Q.S. Ali ‘Imran: 146-148)

6.        HARUS MENGETAHUI POROS-POROS PERJUANGAN ISLAM
1)   Poros Perjuangan Islam. Ada tiga poros bagi kesuksesan Islam, yaitu :
a)    Kejelasan tujuan à banyak mengefisienkan energi para aktivis dan selanjutnya menyimpan energi ini agar tak habis dan hilang dalam mengahadapi persoalan marjinal dan konflik lateral. (Q.S. Adz-Dzariyat: 56)
b)   Kejelasan jalan à jalan perjuangan Islam harus tunduk pada kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip baku yang digariskan oleh tujuan dasar perjuangan dan dikuatkan oleh terjemahan riilnya dalam sirah(sejarah hidup) Rasulullah. Beberapa karakter jalan yang harus ditempuh oleh pergerakan Islam adalah :
1.  Bersifat transformatif : tidak akan mau sekadar menambal atau menerima solusi parsial, tidak mau menerima untuk beradaptasi dengan konsep jahiliyah, tidak bisa menerima untuk hidup bersama dengan berbagai paham produk manusia
2.  Bersifat komprehensif : menuntut adanya watak “totalitas” (kuliyah) dalam perjuangan Islam dengan segala makna yang terkandung di dalamnya, dengan segala indikasi yang dibawa olehnya, dan dengan segala dimensi yang menyertainya.
3. Bersifat universal : aktivitas perjuangan Islam harus mencapai seluruh dunia dalam hal kesadaran, perencanaan, dan pengorganisasian
c)    Komitmen terhadap jalan Rasulullah
Penjelasan mengenai rambu-rambu jalan Nabi dijelaskan melaui poin-poin utama berikut :
Pertama, pernyataan sejak pertama kali bahwa peribadahan hanya untuk Allah, tanpa dibuat-buat atau berbelok, agar tujuan menjadi jelas. (Q.S. Al-Anfal: 37, Q.S. Al-Kafirun: 1-6)
Kedua, pembentukan komunitas pergerakan yang memili ikatan akidah dan keimanan kepada Allah, yang secara keorganisasian patuh kepada seorang pemimpin yang sadar dan berjalan dengan petunjuk dan cahaya Allah.
Ketiga, menghadapi kejahiliyahan secara total, tetapi dengan kesadaran.
2)   Posisi Kekuatan Fisik dalam Strategi Pergerakan
Kekuatan adalah syiar Islam dalam setiap tatanan dan syariatnya. Al Quran telah menjelaskan dalam surat Al-Anfal: 60. Rasulullah juga bersabda, “Orang mukmin yang kuat itu lebih baik daripada orang mukmin yang lemah.” (HR. Muslim)
Kekuatan yang  paling utama adalah kekuatan akidah dan iman, setelah itu adalah kekuatan kesatuan dan ikatan.

7.        HARUS MENGETAHUI PERSYARATAN BAIAT DAN KEANGGOTAAN
Sebisa mungkin seorang Muslim hendaknya bersama-sama dengan pergerakan Islam dalam memikul beban perjuangan Islam, yaitu dengan cara bergabung dalam barisannya. Namun ada hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
1)   Kualitas bukan Kuantitas (Q.S. At-Taubah: 25)
2)   Baiat dan Hukumnya
Baiat adalah janji untuk menaati, yang merupakan sunah Nabi yang diberikan oleh kaum Muslimin kepada Rasulullah berkali-kali semasa beliau masih hidup.
3)   Ketaatan dan Hukumnya
Taat adalah melaksanakan perintah dan merupakan kewajiban selama bukan dalam hal maksiat. (Q.S. An-Nisa’: 59)
4)   Rukun-Rukun Baiat, yaitu al-fahm (pemahaman), al-ikhlash (keikhlasan), al-a’mal (amal), al-jihad (jihad), at-tadhiyah (pengorbanan), at-tha’ah (ketaatan), ats-tsabat (keteguhan), at-tajarud (dedikasi), al-ukhuwah (persaudaraan), dan ats-tsiqah (kepercayaan).
5)   Kewajiban-kewajiban Akhi Muslim :
1.         Wirid harian dari Alquran tidak kurang dari satu juz.
2.         Membaca, mendengarkan dan merenungkan makna Al Quran dengan baik.
3.         Check-up kesehatan.
4.         Hindari konsumsi kopi, teh, dan minuman perangsang lainnya secara berlebihan.
5.         Memperhatikan kebersihan.
6.         Berkata jujur.
7.         Menepati janji.
8.         Menjadi orang yang pemberani dan tabah.
9.         Bersikap tenang dan mengutamakan sikap serius.
10. Menjadi orang yang pemalu, halus perasaan, segera merasakan pengaruh kebaikan dan keburukan, bergembira dengan kebaikan dan bersedih dengan keburukan.
11.     Menjadi orang yang adil, benar dalam membuat keputusan.
12.     Menjadi orang yang energik, membiasakan diri dengan pekerjaan untuk membantu masyarakat.
13.     Menjadi orang berhati penyayang, pemurah dan lapang dada.
14.     Menjadi orang yang pandai membaca dan menulis.
15.     Tekuni satu pekerjaan bernilai ekonomi sekalipun Anda orang kaya.
16.     Jangan berambisi memegang jabatan dalam pemerintahan.
17.     Memiliki minat yang tinggi untuk mejalankan profesi dengan sebaik dan sesempurna mungkin.
18.     Bersikap baik dalam menuntut hak, tetapi memenuhi hak orang lain dengan sempurna.
19.     Menjauhi perjudian.
20.     Menjauhi riba.
21.     Membantu perkembangan perekonomian Islam secara umum.
22.     Berpartisipasi dalam dakwah dengan sebagian harta, menunaikan zakat wajib, dan menetapkan bagian tertentu untuk sedekah.
23.     Menabung sebagian penghasilan.
24.     Berusaha menghidupkan tradisi Islami dan mematikan tradisi impor.
25.     Memboikot pengadilan adat dan semua pengadilan tidak islami, koran, organisasi, sekolah, dan lembaga yang memusuhi fikrah yang Islami.
26. Senantiasa menyadari pengawasan Allah, mengingat akhirat, mempersiapkan diri untuk menghadapinya, serta menempuh tahapan-tahapan perjalanan menuju ridha Allah dengan penuh semangat dan tekad.


8.        WIRID RABITHAH