Ini pengalamanku dalam mencari perguruan tinggi.
Awalnya Pesimistis, Hasilnya Fantastis
Setelah lulus sekolah menengah atas, saya mendaftar di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui ujian mandiri gelombang I dan memilih jurusan Pendidikan Matematika (S1) dan Teknik Mesin (D3). Saat mengerjakan soal, yang saya rasakan mumet (pusing) karena banyak yang tidak saya bisa. Akhirnya, apa yang saya lakukan? Ngawur (asal-asalan).
Awalnya Pesimistis, Hasilnya Fantastis
Setelah lulus sekolah menengah atas, saya mendaftar di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui ujian mandiri gelombang I dan memilih jurusan Pendidikan Matematika (S1) dan Teknik Mesin (D3). Saat mengerjakan soal, yang saya rasakan mumet (pusing) karena banyak yang tidak saya bisa. Akhirnya, apa yang saya lakukan? Ngawur (asal-asalan).
Setelah rangkaian tes selesai, yang saya rasakan hanyalah pesimistis, tak ada harapan untuk diterima karena ngawur saya tadi dan saya yakin banyak orang lain yang mengerjakan soal-soalnya dengan serius dan benar.
Waktu pengumuman pun tiba. Web UNY pun saya buka. Alhasil, apa yang tercantum di web tersebut? Ya, saya lulus dan diterima di jurusan Pendidikan Matematika. Alangkah terkejut dan senangnya saya saat melihat pengumuman itu. Tak ku sangka. . . Akhirnya, saya melakukan daftar ulang sesuai dengan syarat-syarat dan ketentuan yang telah ditentukan.
Banyak kisah yang saya lalui selama proses daftar ulang. Mulai dari yang terserempet motor pembawa rumput hingga helm hilang dicuri di parkiran kampus UNY. Saya sadar, semua itu ujian dan proses dalam hidup saya.
Nah, setelah membayar uang daftar ulang yang senilai Rp 7.---.---,00, pengumuman salah satu sekolah tinggi kedinasan yang saya ikuti tesnya keluar, Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN). Di isi pengumuman, tercantum nama saya. Percaya tidak percaya, tapi tetap bersyukur. Saya memutuskan untuk meninggalkan UNY dan memilih STPN.
Bersama dengan teman-teman seperjuangan, saya mengikuti OSPEK, yang pada waktu itu berlangsung saat puasa Ramadhan. OSPEK berlangsung selama satu minggu, berlokasi di kampus STPN di Yogyakarta. Teman-teman yang berasal dari seluruh Indonesia, sungguh pengalaman pertama saya bisa bergaul dengan orang-orang yang berasal dari Sabang sampai Merauke. Mereka bermacam-macam, mulai dari cara berpakaian, logat/bahasa, hingga cara bergaul. Namun, semua itu justru menambah pengetahuan saya mengenai Indonesia yang tercinta ini.
Kuliah di STPN sudah membayar uang muka yang saya lupa jumlahnya. Seteleh itu, masih harus membayar uang senilai Rp 6 juta, tapi saya menunda karena saya juga masih menunggu panggilan dari Akademi Meteorologi dan Geofisika apakah saya lulus atau tidak.
Setelah kuliah selama lebih kurang satu bulan di STPN dan pada waktu itu sedang libur lebaran, saya ditelepon oleh pihak Akademi Meteorologi dan Geofisika (AMG). Karena saya lulus cadangan di AMG, makanya saya ditelepon.hehe...
Nah, singkat kata singkat cerita, dengan pertimbangan dan saran dari orang tua, akhirnya saya mengambil keputusan untuk melanjutkan kuliah di AMG dan meninggalkan STPN. Dengan membuat surat pernyataan pengunduran diri, saya mundur dari STPN dan meninggalkan kampus, asrama dan teman-teman dengan rasa sedih sekaligus senang.
Dengan membayar uang senilai Rp 6 juta pada waktu itu, saya bisa kuliah di AMG. Tanpa ada uang semester ataupun uang-uang yang bernilai besar yang lain. Nah, sampai sekarang saya masih kuliah di AMG dan alhamdulillah saya telah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) golongan II.a dengan tempat dinas di Stasiun Meteorologi Fatmawati Bengkulu.
Bagi teman-teman yang ingin melanjutkan kuliah, janganlah berputus asa, terus berusaha karena Allah akan memberi kita kemudahan jika kita mau berusaha. ^_^
Waktu pengumuman pun tiba. Web UNY pun saya buka. Alhasil, apa yang tercantum di web tersebut? Ya, saya lulus dan diterima di jurusan Pendidikan Matematika. Alangkah terkejut dan senangnya saya saat melihat pengumuman itu. Tak ku sangka. . . Akhirnya, saya melakukan daftar ulang sesuai dengan syarat-syarat dan ketentuan yang telah ditentukan.
Banyak kisah yang saya lalui selama proses daftar ulang. Mulai dari yang terserempet motor pembawa rumput hingga helm hilang dicuri di parkiran kampus UNY. Saya sadar, semua itu ujian dan proses dalam hidup saya.
Nah, setelah membayar uang daftar ulang yang senilai Rp 7.---.---,00, pengumuman salah satu sekolah tinggi kedinasan yang saya ikuti tesnya keluar, Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN). Di isi pengumuman, tercantum nama saya. Percaya tidak percaya, tapi tetap bersyukur. Saya memutuskan untuk meninggalkan UNY dan memilih STPN.
Bersama dengan teman-teman seperjuangan, saya mengikuti OSPEK, yang pada waktu itu berlangsung saat puasa Ramadhan. OSPEK berlangsung selama satu minggu, berlokasi di kampus STPN di Yogyakarta. Teman-teman yang berasal dari seluruh Indonesia, sungguh pengalaman pertama saya bisa bergaul dengan orang-orang yang berasal dari Sabang sampai Merauke. Mereka bermacam-macam, mulai dari cara berpakaian, logat/bahasa, hingga cara bergaul. Namun, semua itu justru menambah pengetahuan saya mengenai Indonesia yang tercinta ini.
Kuliah di STPN sudah membayar uang muka yang saya lupa jumlahnya. Seteleh itu, masih harus membayar uang senilai Rp 6 juta, tapi saya menunda karena saya juga masih menunggu panggilan dari Akademi Meteorologi dan Geofisika apakah saya lulus atau tidak.
Setelah kuliah selama lebih kurang satu bulan di STPN dan pada waktu itu sedang libur lebaran, saya ditelepon oleh pihak Akademi Meteorologi dan Geofisika (AMG). Karena saya lulus cadangan di AMG, makanya saya ditelepon.hehe...
Nah, singkat kata singkat cerita, dengan pertimbangan dan saran dari orang tua, akhirnya saya mengambil keputusan untuk melanjutkan kuliah di AMG dan meninggalkan STPN. Dengan membuat surat pernyataan pengunduran diri, saya mundur dari STPN dan meninggalkan kampus, asrama dan teman-teman dengan rasa sedih sekaligus senang.
Dengan membayar uang senilai Rp 6 juta pada waktu itu, saya bisa kuliah di AMG. Tanpa ada uang semester ataupun uang-uang yang bernilai besar yang lain. Nah, sampai sekarang saya masih kuliah di AMG dan alhamdulillah saya telah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) golongan II.a dengan tempat dinas di Stasiun Meteorologi Fatmawati Bengkulu.
Bagi teman-teman yang ingin melanjutkan kuliah, janganlah berputus asa, terus berusaha karena Allah akan memberi kita kemudahan jika kita mau berusaha. ^_^